Mengenang Lahirnya Nama “Soekarno” di Kediri: Ruwat Agung Ndalem Pojok Gali Jati Diri Bangsa Demi Asta Cita

Jombangterkini.com Kediri – Ada titik balik sejarah yang jarang tersorot di balik nama besar Sang Proklamator Indonesia. Sebelum dikenal sebagai Soekarno, ia lahir dengan nama Koesno. Perubahan nama bersejarah yang sarat makna spiritual dan filosofis inilah yang diperingati secara khidmat dalam acara budaya bertajuk “Ruwat Agung Soekarno” di Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri.

​Situs Ndalem Pojok bekerja sama dengan Perkumpulan Instruktur Penggiat Jati Diri Bangsa (PIPJATBANG) menggelar acara ini bukan sekadar sebagai ritual seremonial. Acara ini menjadi pemantik refleksi kebangsaan untuk membangkitkan kembali karakter, mentalitas, dan jati diri bangsa yang diwariskan oleh Bung Karno, sekaligus menyelaraskannya dengan visi besar pemerintahan saat ini.

Menghidupkan Kembali ‘Jiwa Soekarno’ untuk Indonesia Emas 2045

​Ketua Panitia Pelaksana, R.M. Kushartono, menjelaskan bahwa Ndalem Pojok memegang posisi krusial dalam lini masa hidup Bung Karno. Di lokasi inilah nama “Soekarno” diberikan oleh Raden Mas Mendung atas restu sesepuh agung Raden Mas Panji Somohatmojo untuk menggantikan nama kecilnya, Koesno, yang saat itu sering sakit-sakitan.

​”Melalui Ruwat Agung ini, kami ingin memulihkan kembali karakter dan mentalitas jati diri bangsa yang mulai memudar. Kami berharap dapat membangkitkan kembali jiwa Soekarno di dalam sanubari generasi muda demi menyongsong Indonesia Emas 2045 dan mengantarkan bangsa ini sebagai Imam Perdamaian Dunia,” ujar Kushartono.

​Acara ini berlangsung meriah namun sakral dengan dihadiri oleh berbagai elemen penting, mulai dari:

Brigjen Pol. Langgeng Purnomo (Ketua Dewan Pengarah PIPJATBANG / Karobinkar SSDM Polri)

​Jajaran Forkopimda Kabupaten Kediri

​Para Kapolres jajaran Polda Jatim eks Polwil Kediri (termasuk Kapolres Jombang AKBP Ardi Kurniawan)

​Tokoh lintas agama, budayawan, dan masyarakat umum.

​Rangkaian ritual diawali dengan Doa Pangruwatan Bangsa lintas agama, disusul Kirab Jati Diri yang mengarak Tumpeng Keselamatan, prosesi Panglukatan (penyucian) patung Soekarno, peresmian monumen perubahan nama Koesno menjadi Soekarno, hingga pementasan teatrikal padat lakon bertajuk Kembang Jagad.

Jati Diri Bangsa: Jembatan Tri Sakti Bung Karno dan Asta Cita Prabowo

​Dalam orasi kebangsaannya, Brigjen Pol. Langgeng Purnomo menekankan bahwa tantangan geopolitik global saat ini sangat dinamis. Setiap negara saling sikut demi kepentingan nasionalnya sendiri. Agar Indonesia terbebas dari pengaruh asing, kuncinya adalah kembali ke konsep Tri Sakti Bung Karno: berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

​Menariknya, Brigjen Langgeng menilai bahwa nafas kemandirian ekonomi dari Tri Sakti ini sangat selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

“Kita sedang menghadapi dampak negatif globalisasi yang tanpa disadari menyuburkan berbagai penyakit sosial. Solusinya adalah kembali kepada jati diri bangsa Indonesia,” tegas Brigjen Langgeng.

Bangun Jiwanya, Bangun Raganya

​Menutup arahannya, Brigjen Langgeng mengambil filosofi mendalam dari lagu kebangsaan Indonesia Raya. Ia mengingatkan bahwa pembangunan fisik (raga) melalui program-program Asta Cita tidak akan kokoh jika tidak dibarengi dengan pembangunan karakter dan moral (jiwa).

​Dengan modal gotong royong yang berakar pada kebudayaan asli nusantara, Indonesia diyakini siap menghadapi tantangan zaman.

​”Kembali kepada jati diri bangsa adalah kunci utama. Dengan kebudayaan yang berkepribadian, ekonomi yang berdikari melalui Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, serta politik yang berdaulat, Indonesia akan siap melangkah menjadi mercusuar dan imam perdamaian dunia yang abadi,” pungkasnya.

(Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *