Jombangterkini.com Gudo Jombang – Ketenangan warga Dusun Balongampel, Desa Sepanyul, Kecamatan Gudo, terusik. Bukan oleh suara bising, melainkan oleh aroma tak sedap yang menusuk hidung dan serbuan ribuan lalat yang mulai merangsek ke pemukiman penduduk.
Kondisi yang dianggap “langganan” setiap musim panen ini kini memicu keresahan serius bagi warga yang kesulitan untuk sekadar makan dan beristirahat dengan tenang.
”Kado” Pahit Pasca-Panen
Salah satu warga yang akrab disapa Warlok, mengungkapkan bahwa masalah ini bukanlah barang baru. Ia menyebut fenomena “teror lalat dan bau” ini memiliki pola yang tetap.
”Bau tak sedap itu muncul setiap kandang ayam habis panen. Selain bau menyengat, masalah lainnya adalah lalat yang jumlahnya luar biasa banyak,” keluh Warlok kepada media.

Bagi warga, kondisi ini sangat mengganggu kualitas hidup. Aktivitas di dalam rumah pun menjadi tidak nyaman karena lalat yang menghinggapi makanan serta bau yang sulit dihilangkan meski pintu rumah ditutup rapat.
Respon Cepat Pemdes Sepanyul
Menanggapi kegaduhan di masyarakat, Kepala Desa Sepanyul, Dedi Anugrah Dwi P., angkat bicara. Saat ditemui pada Jumat (10/04/2026), Dedi membenarkan bahwa pihak pemerintah desa (Pemdes) telah menerima laporan keberatan dari warga Balongampel.
”Kami sudah mendalami masalah ini. Diduga kuat sumbernya memang dari kandang ayam yang berada di bagian utara desa,” terang Dedi.
Dedi mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa kandang tersebut sebenarnya memiliki catatan merah. Pemdes sebelumnya pernah mengambil tindakan tegas berupa penghentian operasional. Namun, belakangan diketahui kandang tersebut kembali diisi ayam setelah disewa oleh warga Buntel atas nama Sugeng.
Saling Tuding di Balik Serangan Lalat
Saat dikonfirmasi via telepon, pihak pengelola kandang memberikan pembelaan. Sutiah, istri dari Sugeng, pemilik kandang mengklaim bahwa pihaknya telah melakukan prosedur kebersihan dengan rutin.
Klaim Pengelola: Sudah melakukan penyemprotan obat pembasmi lalat dan larva setiap hari.
Alibi: Sutiah menduga lalat-lalat tersebut bukan berasal dari kandangnya, melainkan “limpahan” dari kandang milik tetangga (Pak Eskan) di Dusun Cikar yang diduga hanya menyemprot dengan air tanpa obat, sehingga lalat bermigrasi ke arah kandang mereka.
Mencari Solusi Permanen
Meski ada upaya penyemprotan, fakta di lapangan menunjukkan masalah tetap terjadi. Warga dan pihak desa menilai perlu adanya koordinasi antar pemilik kandang di wilayah tersebut agar melakukan penyemprotan serentak, terutama saat masa krusial seperti panen.
Tabel Ringkasan Masalah & Solusi

Kini, warga Dusun Balongampel hanya bisa berharap ada langkah nyata yang lebih dari sekadar janji atau penyemprotan parsial. Mereka mendambakan udara bersih kembali merayap di teras rumah mereka, tanpa perlu “berbagi meja” dengan ribuan lalat.
(Red)






