Jombqngterkini.com. Jombang. — Kasus teror dan pemerasan berkedok jurnalisme di Kabupaten Jombang kian meresahkan. Setelah geger insiden serupa di MTsN 13 Jombang, gelombang keberanian para korban mulai terbuka. Terkini, SMP Negeri 1 Perak turut terungkap menjadi sasaran empuk kelompok oknum yang sama.
Modus operandi yang dilancarkan terbilang klise namun licik: mendatangi institusi pendidikan dengan dalih meminta data siswa, lalu berujung pada permintaan “uang rokok” atau amplop.
Jaringan yang Sama, Modus Serupa
Berdasarkan investigasi di lapangan, kedatangan para oknum ini memiliki pola yang identik dengan kasus di Sembung. Sebuah sumber internal di SMPN 1 Perak yang enggan disebutkan namanya menuturkan, komplotan tersebut mendatangi pos satpam sebelum akhirnya menemui pihak Humas sekolah.
“Kedatangan awal di pos satpam nanyakan Humas, setelah saya tunjukkan dianya masuk nemui. Saya tidak tahu dikasih uang apa tidak… Kalau tidak salah sudah 2 kali ini oknum wartawan tersebut ke SMPN Perak,” ujar sumber tersebut.
Keterangan ini langsung dikonfirmasi oleh Humas SMPN 1 Perak, Supriyatna. Saat redaksi mengirimkan tautan berita mengenai insiden di MTsN 13 Jombang, ia membenarkan bahwa sekolahnya menghadapi situasi serupa dengan balasan singkat: “Nggeh betul pak.”
Dari penelusuran, aksi ini diduga kuat digerakkan oleh komplotan beranggotakan 3 hingga 4 orang yang mengaku berasal dari Surabaya.
Tak Hanya Sekolah, Kepala Desa Ikut Jadi Korban “Wartawan Gabungan”
Belum reda kekhawatiran di dunia pendidikan, teror ini ternyata juga menghantui para kepala desa di Jombang. Keluhan tersebut tumpah ruah di grup WhatsApp
Salah satu Kepala Desa mencurahkan pengalaman tidak mengenakannya saat didatangi tamu tak diundang yang mengaku sebagai wartawan lintas media.
“Sekarang lagi banyak yg ngaku wartawan dari sby. Baru2 ini juga datang ke kantor desa saya… Jawabnya gabungan beberapa media. Intinya minta amplop,” tulis sang Kades.
Situasi kian miris ketika sang kepala desa memberikan uang senilai Rp50.000 untuk empat orang, yang justru dibalas dengan kemarahan karena dianggap tidak cukup untuk ongkos pulang ke Surabaya.
Kecaman Keras dari Tokoh Pers: Jaga Marwah Jurnalis!
Maraknya fenomena “wartawan Bodrex” (wartawan cari-cari celah/pemeras) ini memancing reaksi keras dari internal kalangan pers sendiri. Melalui kolom komentar di akun media sosial Harian Memo, akun atas nama DEWAN NASIONAL JAWA TIMUR melontarkan kritik tajam yang mendapat dukungan luas dari warganet.
“KALAU MEMANG TIDAK ADA BIRONya BOLEH, CUMAN YG JADI PERTANYAAN DI PUBLIK INIKAN BANYAK… WARTAWAN Bodrex, GOLEK2 INI YG HARUS KITA RUBAH PERSEPSI MASYARAKAT DENGAN APA INTROFEKSI DIRI BAGI SELURUH JUTNALIS… KAMI PUN MIRIS MARI DI JAGA MARWAH JURNALIS SUPAYA TETAP TERHORMAD DI PUBLIK,” tulisnya tegas.
Kasus ini menjadi alarm darurat bagi dunia pendidikan, instansi pemerintahan, serta insan pers profesional di Jombang untuk bersama-sama membersihkan diri dari oknum-oknum yang mencederai kebebasan pers.
Hingga berita ini diturunkan, redaksi terus melakukan penelusuran mendalam serta membuka ruang klarifikasi dan hak jawab bagi pihak-pihak terkait demi tegaknya kebenaran informasi.
(Red)






