Kesaksian Sekretaris KPRI Sejahtera: Rapat Tak Pernah Bahas Aset, Tahu-Tahu Ada Dua Pembukuan.

Jombangterkini.com. Jombang. — Tabir gelap yang menyelimuti konflik internal Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) Sejahtera akhirnya mulai terkuak. Dugaan praktik manajemen tertutup hingga munculnya pembukuan ganda kini menjadi sorotan tajam setelah Sekretaris KPRI Sejahtera, Rahmat Junaidi, membuka suara terkait kekacauan tata kelola keuangan di tubuh organisasi tersebut.

​Rahmat Junaidi, yang menjabat sebagai Sekretaris (sebelumnya Sekretaris II) periode 2024–2026, secara mengejutkan mengaku selama ini diasingkan dari urusan finansial koperasi. Ia menegaskan bahwa perannya sengaja dibatasi hanya pada tugas-tugas administratif formalitas.

​”Jangan dikira namanya sekretaris itu tahu secara detail, tidak. Pekerjaan sekretaris itu tidak jauh dari menyiapkan rapat, lokasi RAT (Rapat Anggota Tahunan), dan naskah sambutan. Saya sama sekali tidak tahu soal status cash flow keuangan,” tegas Rahmat saat memberikan kesaksian.

​Aset Siluman dan Laporan Keuangan Dangkal

​Tak hanya buta arah soal arus kas, Rahmat juga membeberkan fakta mengejutkan terkait pembelian aset-aset tanah milik koperasi. Menurutnya, pengalihan dana anggota menjadi aset tanah dilakukan secara diam-diam tanpa pernah melalui forum perencana ilmiah bersama pengurus.

​Laporan dalam rapat triwulan pengurus pun dinilainya sangat dangkal dan terkesan menutupi realisasi investasi dana anggota.

​”Secara pribadi saya baru tahu kalau koperasi punya aset di beberapa tahun terakhir. Ketika saya menjadi sekretaris, rapat tidak pernah membahas masalah pembelian aset. Blas! Rupiahnya berapa, asetnya di mana, bentuknya apa, tidak dibahas,” ungkapnya. Satu-satunya aset yang belakangan ia ketahui hanyalah tanah kaplingan di kawasan Sumber.

​Dinas Koperasi Temukan Pembukuan Ganda, Manajer Disorot

​Tebak-tebak buah manggis soal siapa yang mengendalikan lalu lintas anggaran KPRI Sejahtera mulai menemui titik terang. Rahmat secara lugas menunjuk Manajer Koperasi, Suyud, sebagai sosok kunci yang memegang kendali penuh atas rincian keuangan dan aset koperasi.

​Praktik tidak transparan ini mendadak meledak setelah Dinas Koperasi turun tangan melakukan inspeksi mendalam dan pendampingan selama tiga hari.

Hasil pemeriksaan administrasi mengonfirmasi adanya temuan fatal: manajemen koperasi terbukti menjalankan pembukuan ganda (double bookkeeping).

​”Saya dengar detail itu ke Pak Suyud (Manajer). Muaranya banyak ke sana, karena dia yang tahu persis. Sampai dia menjelaskan kenapa ada dua pembukuan ini,” lanjut Rahmat. Ia meyakini praktik manipulasi administrasi tersebut jelas melanggar regulasi perkoperasian yang berlaku.

​Meski audit awal Dinas Koperasi mengindikasikan bahwa dana anggota tidak menguap melainkan telah beralih rupa menjadi aset fisik tanah, keberadaan pembukuan ganda dan manajemen “di bawah meja” tetap menjadi pelanggaran serius. Kini, ratusan anggota KPRI Sejahtera menuntut pertanggungjawaban penuh dan transparansi total dari Manajer Koperasi atas simpang siur pengelolaan dana yang selama ini disembunyikan.

(Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *