Ungkap Sejarah NU di Tambakberas Jombang, Gus Yahya Ingatkan Wejangan Sakral Mbah Wahab

Jombangterkini.com. Jombang — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), membedah visi geopolitik global serta jejak pergerakan pendiri NU, KH Abdul Wahab Hasbullah (Mbah Wahab), dalam acara bedah buku di Universitas KH Wahab Hasbullah (Unwaha) Tambakberas, Jombang, Sabtu (15/8/2026) malam.

​Di hadapan ratusan akademisi, santri, dan pengurus NU yang memadati auditorium Unwaha, Gus Yahya mengulas buku karya H Abdul Mun’im DZ setebal 262 halaman terbitan Unwaha Press (2024). Ia mengajak seluruh warga jam’iyah menengok kembali akar sejarah dan fondasi perjuangan para muassis (pendiri) NU.

​Gus Yahya memaparkan tiga pilar pergerakan utama yang digagas Mbah Wahab sebelum melahirkan Nahdlatul Ulama pada 1926:

​Nahdlatul Wathan (1916): Wadah pendidikan dan nasionalisme generasi muda yang berkembang menjadi jaringan madrasah di Jawa Timur hingga Jawa Barat.

​Nahdlatut Tujjar (1918): Gerakan ekonomi untuk menghimpun potensi saudagar demi kemandirian umat.

​Tashwirul Afkar (1918): Forum diskusi strategis bagi para kiai dan cendekiawan muslim.

​Diplomasi “Tertinggal Kapal” dan Sikap Geopolitik

​Poin paling krusial yang diulas Gus Yahya adalah pembacaan geopolitik Mbah Wahab pasca-runtuhnya Khilafah Utsmaniyah pada era 1920-an. Saat diundang menghadiri Muktamar Khilafah di Arab Saudi, Mbah Wahab secara formal batal berangkat dengan alasan “tertinggal kapal”.

​Gus Yahya mengungkapkan bahwa alasan tersebut merupakan taktik diplomasi dan penolakan halus khas ulama Nusantara. Mbah Wahab secara tegas menolak Arab Saudi dijadikan pusat khilafah baru pengganti Turki Utsmani. Sikap ini didasari penilaian bahwa paham Wahabisme yang dominan di Hijaz saat itu memiliki sanad keilmuan yang terputus (muqathi’), berbanding terbalik dengan tradisi Nusantara yang memegang teguh sanad bersambung (muttashil) berbasis Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja).

​Keputusan melepaskan agenda muktamar di Saudi dan berfokus membangun kekuatan dalam negeri membuktikan ketajaman visi Mbah Wahab. Keunikan NU terletak pada karakternya yang lahir murni dari tangan dingin para ulama di tengah cengkeraman penjajahan, bukan dari dorongan penguasa politik.

​Mengakhiri pemaparannya, Gus Yahya mengingatkan wejangan sakral dari Mbah Wahab: barang siapa bertekad merusak NU dari dalam, niscaya ia akan hancur oleh ulahnya sendiri. Lahirnya NU terbukti bukan sekadar kejutan sejarah, melainkan rancangan peradaban matang untuk merespons dinamika geopolitik dunia.

(Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *