Jombangterkini.com Jombang – Keberhasilan Kabupaten Jombang dalam mendongkrak produksi padi pada tahun 2025 ternyata bukan sekadar angka di atas kertas. Di balik lonjakan tersebut, Dinas Pertanian (Disperta) Jombang tengah menjalankan misi besar: membangun kedaulatan pangan yang ramah lingkungan dan memastikan petani tidak “berjuang sendirian” saat dihantam bencana.
Kepala Disperta Jombang, Much Rony, menegaskan bahwa fokus saat ini telah bergeser dari sekadar mengejar kuantitas menuju sistem pertanian berkelanjutan melalui program Budidaya Tanaman Sehat (BTS).

1. Budidaya Tanaman Sehat: Solusi Cerdas & Hemat
Dimulai sejak April 2025 di Desa Kendalsari, program BTS kini telah berekspansi menjadi 21 desa model yang tersebar di seluruh kecamatan di Jombang. Dengan total luas 100 hektar, metode ini mengubah cara pandang petani tradisional.
Tanpa Bakar Limbah: Mengutamakan pengolahan limbah menjadi pupuk organik.
Hama Terpadu: Pengendalian hama yang lebih alami dan minim kimia.
Efisiensi Biaya: Menekan modal produksi sekaligus menjaga ekosistem tanah tetap subur.
”Kami tidak ingin produksi meningkat tapi merusak lingkungan. Dengan BTS, produksi tetap naik, hasil lebih sehat, dan agro-ekosistem terjaga,” ujar Rony.
2. Sabuk Pengaman bagi Petani (AUTP)
Sektor perlindungan menjadi pilar kedua. Melalui Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP), petani Jombang kini memiliki jaring pengaman.
Cakupan Luas: Sebanyak 1.843 petani dengan lahan 973 hektar telah terdaftar asuransi.
Respon Cepat: Saat ini, klaim untuk 32 hektar lahan terdampak banjir di Desa Jatigedong sedang diproses.
Solidaritas Benih: Bagi petani yang belum terdaftar asuransi namun mengalami gagal panen, Disperta telah menyalurkan 6.325 kg benih untuk lahan seluas 253 hektar.
3. Manisnya Capaian Tebu & Harapan Baru di Komoditas Nilam
Jombang juga membuktikan taringnya di sektor perkebunan. Program Bongkar Ratoon Tebu seluas 3.315 hektar sukses mendongkrak performa industri gula:
Produksi Tebu: Menembus 787.246 ton.
Rendemen: Naik menjadi 7,11%.
Output Gula: Menghasilkan 56.009 ton gula kristal putih untuk swasembada nasional.
Tak berhenti di gula, Disperta kini menggandeng AFCO Group untuk mengembangkan komoditas Nilam. Pola kemitraan ini menjamin kepastian harga dan pasar, sehingga petani memiliki posisi tawar yang kuat dari hulu hingga hilir.
Menuju 2029: Kesejahteraan Petani Adalah Harga Mati
Menutup keterangannya, Much Rony memastikan seluruh langkah strategis ini akan terus dikawal hingga tahun 2029, selaras dengan visi Asta Cita dan RPJMD Kabupaten Jombang.
”Tujuan akhirnya bukan hanya swasembada pangan semata, tetapi kesejahteraan petani yang berkelanjutan,” pungkasnya optimis.
(Red)






