JOMBANG TERKINI.COM SUMOBITO – Kemeriahan menyelimuti Dusun Penampan, Desa Kedungpapar, Kecamatan Sumobito pada Minggu (1/2/2026) pagi. Ratusan warga tumpah ruah ke jalan untuk mengikuti prosesi Kirab Tumpeng dalam rangka tradisi Ruwah Dusun Penampan.
Prosesi Kirab: Dari Kediaman Kasun hingga Masjid Al-Istiqomah
Acara adat tahunan ini dilepas langsung oleh Kepala Desa Kedungpapar, Faisal Karim. Peserta kirab yang membawa berbagai bentuk tumpeng hasil bumi dan jajanan pasar mengambil titik start dari depan rumah Kepala Dusun Penampan, Basuki Rahmat.
Iring-iringan kirab berjalan meriah melintasi jalanan dusun dan berakhir (finish) di halaman Masjid Al-Istiqomah Dusun Penampan.

Harapan dan Doa Kepala Desa
Dalam sambutannya sebelum memberangkatkan peserta, Kepala Desa Kedungpapar, Faisal Karim, menyampaikan apresiasi mendalam atas kekompakan warga. Beliau berharap tradisi ini menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi.
”Dengan adanya Ruwah Dusun Penampan ini, semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan, keberkahan rezeki, dan perlindungan dari Allah SWT. Semoga kerukunan antarwarga Desa Kedungpapar, khususnya Dusun Penampan, tetap terjaga dengan baik,” ujar Faisal Karim.
Tradisi Rebutan Gunungan yang Meriah
Suasana semakin pecah saat rombongan kirab tiba di halaman Masjid Al-Istiqomah. Tanpa menunggu lama, warga langsung saling berebut gunungan tumpeng yang berisi hasil bumi dan aneka jajanan pasar. Tradisi “rebutan” ini diyakini masyarakat setempat sebagai simbol ngalap berkah atas hasil panen dan kesejahteraan dusun.
Setelah keseruan rebutan tumpeng berakhir, acara dilanjutkan dengan doa bersama dan tasyakuran sebagai bentuk rasa syukur kolektif kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kehadiran Tokoh Masyarakat
Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya:
Faisal Karim (Kepala Desa Kedungpapar)
Basuki Rahmat (Kepala Dusun Penampan)
Babinsa dan Bhabinkamtibmas Desa Kedungpapar
Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat setempat
Serta seluruh warga Dusun Penampan yang hadir dengan penuh antusias.
Kegiatan Ruwah Dusun ini tidak hanya menjadi simbol syukur, tetapi juga menjadi bukti nyata lestarinya budaya gotong royong di tengah masyarakat Sumobito.
(Red)






